Tugas ke-1
Septian Ari Atmojo
2PA14
18513379
DEFINISI
SEHAT.
Sehat
(Health) secara umum dapat dipahami sebagai kesejahteraan secara penuh (keadaan
yang sempurna) baik secara fisik, mental, maupun sosial, tidak hanya terbebas
dari penyakit atau keadaan lemah. Sedangkan di Indonesia, UU Kesehatan No. 23/
1992 menyatakan bahwa sehat adalah suatu keadaan sehat secara fisik, mental,
dan sosial dimana memungkinkan setiap manusia untuk hidup produktif baik secara
sosial maupun ekonomis. World Health Organization
(WHO,
2001), menyatakan bahwa kesehatan mental merupakan kondisi dari kesejahteraan
yang disadari individu, yang di dalamnya terdapat kemampuan-kemampuan untuk
mengelola stres kehidupan yang wajar, untuk bekerja secara produktif dan menghasilkan,
serta berperan serta di komunitasnya.Dan memiliki 4 dimensi holistik, yaitu
agama, organobiologik, psiko-edukatif dan sosial budaya.
Jadi
Konsep Sehat merupakan suatu keadaan dimana seseorang duikatakan normal dan
sesuai dengan kaidah dan standart yang di terima dalam suatu komunitas atau
masyarakyat, dan mempunyai suatu keadaan dimanan fisik mental dan sosialnya
tidak tergangu dan dapat melalukan peranya sebagai anggota dalm suatu komunitas
atau masyarakyat
Pengertian
dan Pendapat dari Para ahli mengenai Kesehatan Mental
a. Arti kata Kesehatan Mental
Kesehatan
Mental merupakan alih bahasa dari Mental Hygiene atau Mental Health
berasal dari kata Hygiene dan Mental.
Secara etimologi Hygiene dari kata Hygea yaitu, nama Dewi Kesehatan Yunani kuno
yang mempunyai tugas mengurus masalah kesehatan manusia di dunia. Kemudian
muncul kata hygiene untuk
menunjukkan suatu kegiatan yang
bertujuan mencapai hygiene. Sedangkan mental berasal dari kata latin Mens dan
Mentis yang berarti jiwa, nyawa, sukma, roh, dan semangat.
b. Kesehatan Mental menurut Para Ahli
Menurut
Dr. Jalaluddin dalam bukunya “Psikologi Agama” bahwa:
“Kesehatan
mental merupakan suatu kondisi batin yang senantiasa berada dalam keadaan
tenang, aman dan tentram, dan upaya untuk menemukan ketenangan batin dapat
dilakukan antara lain melalui penyesuaian diri secara resignasi (penyerahan
diri sepenuhnya kepada Tuhan)”.
Sedangkan
menurut paham ilmu kedokteran, kesehatan mental merupakan suatu kondisi yang
memungkinkan perkembangan fisik, intelektual dan emosional yang optimal dari
seseorang dan perkembangan itu berjalan selaras dengan keadaan orang lain.
Zakiah
Daradjat mendefenisikan bahwa mental yang sehat adalah terwujudnya keserasian
yang sungguh-sungguh antara fungsi-fungsi kejiwaan dan terciptanya penyesuaian
diri antara individu dengan dirinya sendiri dan lingkungannya berdasarkan
keimanan dan ketakwaan serta bertujuan untuk mencapai hidup bermakna dan
bahagia di dunia dan akhirat. Jika mental sehat dicapai, maka individu memiliki
integrasi, penyesuaian dan identifikasi positif terhadap orang lain. Dalam hal
ini, individu belajar menerima tanggung jawab, menjadi mandiri dan mencapai
integrasi tingkah lak
Musthafa
Fahmi, mengatakan kesehatan jiwa adalah bebas dari gejala-gejala penyakit jiwa
dan gangguan kejiwaan.
Zakiah
Daradjat, Kesehatan mental adalah terhindarnya orang dari gejala gangguan jiwa
(neurose) dan dari gejala-gejala penyakit jiwa (psichose). Definisi ini banyak
dianut di kalangan psikiatri (kedokteran jiwa) yang memandang manusia dari
sudut sehat atau sakitnya.
Kesehatan
mental adalah kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan dirinya sendiri, dengan
orang lain dan masyarakat serta lingkungan tempat ia hidup
Pepkin’s
Sehat
adalah suatu keadaan keseimbangan yang dinamis antara bentuk tubuh dan fungsi
yang dapat mengadakan penyesuaian, sehingga dapat mengatasi gangguan dari luar.
Allport,
manusia sehat adalah manusia yang mencapai kematangan.
Maslow,
manusia sehat adalah manusia yang mampu mengaktualisasikan dirinya dan mencapai
kebahagiaan.
Kesehatan
mental menurut UU No.3/1961 adalah suatu kondisi yang memungkinkan perkembangan
fisik, intelektual, emosional yang optimal dari seseorang dan perkembangan itu
berjalan selaras dengan keadaan orang lain.
Dari
beberapa defenisi yang telah dikemukakan di atas, maka dapat dipahami bahwa
orang yang sehat mentalnya adalah terwujudnya keharmonisan dalam fungs
fisik,ijiwa dan sosial serta tercapainya kemampuan untuk menghadapi
permasalahan sehari-hari, sehingga merasakan kebahagiaan dan kepuasan dalam
dirinya. Seseorang dikatakan memiliki mental yang sehat, bila ia terhindar dari
gejala penyakit jiwa dan memanfatkan potensi yang dimilikinya untuk
menyelaraskan fungsi jiwa dalam dirinya.
c.
Sejarah perkembangan kesehatan mental
Sejarah
mencatat bahwa di Zaman dahulu manusia mengasumsikan bahwa seseorang yang
mengalami ganguan Mental atau tidak sehat itu disebabkan oleh suatu tindakan
dari mahluk halus atau gaib yang merasuki dirinya dan pikirannya sehingga
penderita tersebut harus di jauhi, diasingkan dan dirantai di suatu goa-goa
atau penjara penjara bawah tanah. Namun karena semakin majunya perkembangan zaman
dan manusia mulai beahli pada pemikiran yang ilmiah maka mereka pun mulai
menyimpulkan pendapat yang lebih logis menganai penyakit mental.
Pada
Zaman Pra Sejarah tercatat bahwa manusia purba mengalami ganguan seperti
infeksi dan arttristis dan pada zaman permulaan masa peradaban Pytagoras ialah
orang yang pertama memberi penjelasan terhadap penyakit mental diikuti Palato
dan hypocrates yang berpendapat ganguan mental merupakan ganguan dilihat dari
ciri ganguan fisik, moral dan ganguan dari para dewa, dan Zaman Renaisance
mulai menyangkal bahwa ganguan penyakit mental itu pasiaennya itu tengelam dari
dunia Takhyul atau alam gaib.
Namun,
lambat laun ada usaha-usaha kemanusiaan yang mengadakan perbaikan dalam menanggulangi orang-orang yang terganggu
mentalnya ini. Philippe Pinel di Perancis dan William Tuke dari Inggris adalah
salah satu contoh orang yang berjasa dalam mengatasi dan menanggulangi
orang-orang yang terkena penyakit mental. Masa-masa Pinel dan Tuke ini
selanjutnya dikenal dengan masa pra ilmiah karena hanya usaha dan praksis yang
mereka lakukan tanpa adanya teori-teori yang dikemukakan.
Masa
selanjutnya adalah masa ilmiah, dimana tidak hanya praksis yang dilakukan
tetapi berbagai teori mengenai kesehatan mental dikemukakan. Masa ini
berkembang seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan alam di Eropa.
Dorothea Dix merupakan seorang pionir wanita dalam usaha-usaha kemanusiaan
berasal dari Amerika. Ia berusaha menyembuhkan dan memelihara para penderita
penyakit mental dan orang-orang gila dan memperbaiki banyak rumah sakit jiwa di
Amerika dan Eropa.
Pada
tahun 1909, gerakan mental Hygiene secara formal mulai muncul. Perkembangan
gerakan mental hygiene ini tidak lepas dari jasa Clifford Whitting Beers
(1876-1943) bahkan karena jasanya itu ia dinobatkan sebagai The Founder of the
Mental Hygiene Movement dia terkenal karena pengalamannya yang luas dalam
bidang pencegahan dan pengobatan gangguan mental dengan cara yang sangat
manusiawi.
Secara
hukum, gerakan mental hygiene ini mendapat pengakuan pada tanggal 3 Juli 1946,
yaitu ketika presiden Amerika Serikat menandatangani The National Mental Health
Act., yang berisi program jangka panjang yang diarahkan untuk meningkatkan
kesehatan mental seluruh warga masyarakat.
d. Teori
kepribadian sehat menurut Aliran Psikoloanalisa, Behavioristik, Humanistik
a. Psikoanalisa
Psikoanalisis
merupakan suatu bentuk model kepribadian. Teori ini sendriri pertama kali
diperkenalkan oleh Sigmun Freud (1856-1938). Freud mengembangkan teorinya tentang struktur
kepribadian dan sebab-sebab gangguan jiwa dan dengan konsep teorinya yaitu perilaku
dan pikiran dengan mengatakan bahwa kebanyakan apa yang kita lakukan dan
pikirkan hasil dari keinginan atau dorongan yang mencari pemunculan dalam
perilaku dan pikiran. Psikoanalisis mempunyai metode untuk membongkar gangguan
– gangguan yang terdapat dalam ketidaksadaran ini, antara lain dengan metode
analisis mimpi dan metode asosiasi bebas. Teori Psikologi Freud didasari pada
keyakinan bahwa dalam diri manusia terdapat suatu energi psikis yang sangat
dinamis yaitu Id, Ego dan Super Ego dengan Id merupakan bagian palung primitif
dalam kepribadian, Ego merupakan bagian “eksekutif” dari kepribadian, ia
berfungsi secara rasional berdasakan prinsip kenyataan. Berusaha memenuhi
kebutuhan Id secara realistis,yaitu dimana Ego berfungsi untuk menyaring dorongan-dorongan
yang ingin dipuaskan oleh Id berdasarkan kenyataan dan Super Ego merupakan
gambaran internalisasi nilai moral masyarakat yang diajarkan orang tua dan
lingkungan seseorang. Pada dasarnya Super Ego merupakan hati nurani seseorang
dimana berfungsi sebagai penilai apakah sesuatu itu benar atau salah. Karena
itu Super Ego berorientasi pada kesempurnaan.
Dalam
Teori Psikoanalisa freud mengemukakan bahwa manusia itu di pengaruhi dan
dimotivasi oleh dorongan alam sadar dan alam tidak sadar serta alam bawah
sadar.
Berikut
merupakn tingkat-tingkat kesadaran pada manusia
1).
Tingkat sadar atau kesadaran (conscious level)
Pada
tingkat ini aktivitas mental dapat disadari setiap saat seperti berpikir,
persepsi, dan lain-lain.
2).
Tingkat prasadar (preconscious level)
Pada
tingkat ini aktivitas mental dan gejala-gejala psikis yang timbul bias disadari
hanya apabila individu memperhatikannya, misalnya memori,
pengetahuan-pengetahuan yang telah dipelajari, dan lain-lain.
3).
Tingkat tidak disadari (unconscious level)
Pada
tingkat ini aktivitas mental dan gejala-gejala psikis tidak disadari oleh
individu. Gejala-gejala ini muncul misalnya dalam dorongan-dorongan immoral,
pengalaman-pengalaman yang memalukan, harapan-harapan yang irasional,
dorongan-dorongan seksual yang tidak sesuai dengan norma masyarakat, dan
lain-lain.
Kepribadian
yang baik menurut psikoanalisis adalah jika individu bergerak menurut pola
perkembangan yang ilmiah. Belajar mengatasi tekanan dan kecemasan, serta
keseimbangan antara kinerja super ego terhadap id dan ego.
Kepribadian
yang sehat menurut psikoanalisis:
1.Menurut
freud kepribadian yang sehat yaitu jika individu bergerak menurut pola
perkembangan yang ilmiah.
2.
Kemampuan dalam mengatasi tekanan dan kecemasan, dengan belajar
3.
Mental yang sehat ialah seimbangnya fungsi dari superego terhadap id dan ego
4.
Tidak mengalami gangguan dan penyimpangan pada mentalnya
5.
Dapat menyesuaikan keadaan ddengan berbagai dorongan dan keinginan
b. Kepribadian Sehat Behavioristik
Behaviorisme
juga disebut psikologi S – R (stimulus dan respon). Behaviorisme menolak bahwa
pikiran merupakan subjek psikologi dan bersikeras bahwa psokologi memiliki
batas pada studi tentang perilaku dari kegiatan-kegiatan manusia dan binatang
yang dapat diamati. Teori Behaviorisme sendiri pertama kali diperkenalkan oleh
John B. Watson (1879-1958)
Teori
behavioristik adalah proses belajar serta peranan lingkungan yang merupakan
kondisi langsung belajar dalam menjelaskan perilaku dan semua bentuk tingkah
laku manusia. Pavlov, Skinner, dan Watson dalam berbagai eksperimen mencoba
menunjukkan betapa besarnya pengaruh lingkungan terhadap tingkah laku. Semua
tingkah laku termasuk tingkah laku yang tidak dikehendaki, menurut mereka,
diperoleh melalui belajar dari lingkungan.
Aliran
behaviorisme mempunyai 3 ciri penting:
1.
Menekankan pada respon-respon yang dikondisikan sebagai elemen dari perilaku
2.
Menekankan pada perilaku yang dipelajari dari pada perilaku yang tidak
dipelajari.
Behaviorisme menolak kecenderungan pada
perilaku yang bersifat bawaan.
3.
Memfokuskan pada perilaku binatang. Menurutnya, tidak ada perbedaan alami
antara perilaku
manusia dan perilaku binatang.
c. Kepribadian Sehat Menurut Aliran Humanistik
Humanistik
mulai muncul sebagai sebuah gerakan
besar psikologi dalam tahun 1950-an. Aliran humanistik merupakan
konstribusi dari psikolog-psikolog terkenal seperti Gordon Allport, Abraham
Maslow dan Carl Rogers Menurut aliran humanistik kepribadian yang sehat,
individu dituntut untuk mengembangkan potensi yang terdapat didalam dirinya
sendiri. Bukan saja mengandalakan pengalaman-pengalaman yang terbentuk pada
masa lalu dan memberikan diri untuk belajar mengenai suatu pola mengenai yang
baik dan benar sehingga menghasilkan respon individu yang bersifat pasif.
Ciri
dari kepribadian sehat adalah mengatualisasikan diri, bukan respon pasif buatan
atau individu yang terimajinasikan oleh pengalaman-pengalaman masa lalu.
Aktualisasi diri adalah mampu mengedepankan keunikan dalam pribadi setiap
individu, karena setiap individu memiliki hati nurani dan kognisi untuk
menimbang-nimbang segala sesuatu yang menjadi kebutuhannya. Humanistik
menegaskan adanya keseluruhan kapasitas martabat dan nilai kemanusiaan untuk
menyatakan diri dan mengatualisasikan diri.
Menurut
Abraham Maslow Orang yang sehat secara Psikologis adalah orang yang terpenuhi
akan kebutuhan-kebutuhan ini
1) Kebutuhan-kebutuhan fisiologis (the
physiological needs)
2) Kebutuhan-kebutuhan rasa aman (the safety
needs / the security needs)
3) Kebutuhan rasacinta dan memiliki (the love
and belongingness needs)
4) Kebutuhan akan penghargaan diri (the
self-esteem needs)
5) Kebutuhan akan aktualisasi diri (the
self-actualization needs)
Abraham Maslow
Teori
Kepribadian Abraham Maslow
1)
Individu sebagai Kesatuan Terpadu
Pertama-tama
Maslow menekankan bahwa individu merupakan kesatuan yang terpadu dan
terorganisasi, sehingga motivasi seseorang dalam melakukan sesuatu adalah
motivsi individu seutuhnya bukan bagian darinya. Menurut maslow manusia harus
diselidiki sebagai sesuatu yang totalitas, sebagai suatu system, setiap bagian
tidak dapat dipisahkan dengan bagian yang lain. Pernyataan ini hampir
menjadi aksioma yang diterima oleh semua orang, yang kemudian sering dilupakan
dan diabaikan tatkala seseorang melakukan penelitian. Penting sekali untuk
selalu disadarkan kembali hal ini sebelum seseorang melakukan eksperimen atau
menyusun suatu teori motivasi yang sehat.
2)
Hirarki Kebutuhan
Maslow
mengembangkan teori tentang bagaimana semua motivasi saling berkaitan. Ia
menyebut teorinya sebagai “hirarki kebutuhan”. Kebutuhan ini mempunyai tingkat
yang berbeda-beda. Ketika satu tingkat kebutuhan terpenuhi atau mendominasi,
orang tidak lagi mendapat motivasi dari kebutuhan tersebut.. Maslow membuat
tingkatan kebutuhan manusia menjadi lima karakteristik. sebagai berikut:
a.
Kebutuhan fisiologis
Kebutuhan
fisiologis adalah kebutuhan manusia yang paling mendasar untuk mempertahankan
hidupnya secara fisik, yaitu kebutuhan akan makanan, minuman, tempat tinggal,
seks, tidur, istirahat, dan udara. Seseorang yang mengalami kekurangan makanan,
harga diri, dan cinta, pertama-tama akan mencari makanan terlebih dahulu. Bagi
orang yang berada dalam keadaan lapar berat dan membahayakan, tak ada minat
lain kecuali makanan. Tidak diragukan lagi bahwa kebutuhan fisiologis ini
adalah kebutuhan yang paling kuat dan mendesak. Ini berarti bahwa pada diri
manusia yang sangat merasa kekurangan segala-galanya dalam kehidupannya, besar
sekali kemungkinan bahwa motivasi yang paling besar ialah kebutuhan fisiologis
dan bukan yang lain-lainnya. Dengan kata lain, seorang individu yang melarat
kehidupannya, mungkin sekali akan selalu termotivasi oleh kebutuhan-kebutuhan
ini
b.
Kebutuhan akan rasa aman
Setelah
kebutuhan dasariah terpuaskan, muncullah apa yang digambarkan Maslow sebagai
kebutuhan akan rasa aman atau keselamatan. Kebutuhan ini menampilkan diri dalam
kategori kebutuhan akan kemantapan, perlindungan, kebebasan dari rasa takut,
cemas dan kekalutan, kebutuhan akan struktur, ketertiban, hukum, batas-batas,
dan sebagainya. Kebutuhan ini dapat kita amati pada seorang anak. Biasanya
seorang anak membutuhkan suatu dunia atau lingkungan yang dapat diramalkan.
Seorang anak menyukai konsistensi dan kerutinan sampai batas-batas tertentu.
Jika hal-hal itu tidak ditemukan maka ia akan menjadi cemas dan merasa tidak
aman. Orang yang merasa tidak aman memiliki kebutuhan akan keteraturan dan
stabilitas serta akan berusaha keras menghindari hal-hal yang bersifat asing
dan tidak diharapkan. Untuk pribadi yang sehat, kebutuhan rasa aman tidak
berlebih-lebihan atau selalu mendesak. Kebanyakan diantara kita ini tidak
menyerah atau sama sekali tunduk kepada kebutuhan-kebutuhan rasa aman, tetapi
dalam pada itu juga kita merasa tidak puas kalau jaminan dan stabilitas sama
sekali tidak ada.
c.
Kebutuhan sosial
Setelah
terpuaskan kebutuhan akan rasa aman, maka kebutuhan sosial yang mencakup
kebutuhan akan rasa memiliki-dimiliki, saling percaya, cinta, dan kasih sayang
akan menjadi motivator penting bagi perilaku. Pada tingkat kebutuhan ini,belum
pernah sebelumnya, orang akan sangat merasakan tiadanya seorang sahabat,
kekasih, isteri, suami, atau anak-anak. Ia haus akan relasi yang penuh arti dan
penuh kasih dengan orang lain pada umumnya. Ia membutuhkan terutama tempat
(peranan) di tengah kelompok atau lingkungannya, dan akan berusaha keras untuk
mencapai dan mempertahankannya. Orang di posisi kebutuhan ini bahkan mungkin
telah lupa bahwa tatkala masih memuaskan kebutuhan akan makanan, ia pernah
meremehkan cinta sebagai hal yang tidak nyata, tidak perlu, dan tidak penting.
Sekarang ia akan sangat merasakan perihnya rasa kesepian itu, pengucilan
sosial, penolakan, tiadanya keramahan, dan keadaan yang tak menentu.
Maslow
percaya bahwa makin lama makin sulit memuaskan kebutuhan akan memiliki dan
cinta kerena mobilitas kita.begitu sering kita berganti rumah, tetangga, kota,
bahkan pathner, sehingga kita tidak dapat berakar. Kita tidak cukup lama berada
disuatu tempat untuk mengembangkan perasaan yang memiliki. Banyak orang dewasa
merasakan kesepian dan terisolasi, meskipum mereka hidup ditengah-tengah orang
banyak.
d.
Kebutuhan akan penghargaan
Maslow
membedakan kebutuhan ini menjadi kebutuhan akan penghargaan secara internal dan
eksternal. Yang pertama (internal) mencakup kebutuhan akan harga diri,
kepercayaan diri, kompetensi, penguasaan, kecukupan, prestasi,
ketidaktergantungan, dan kebebasan (kemerdekaan). Yang kedua (eksternal)
menyangkut penghargaan dari orang lain, prestise, pengakuan, penerimaan,
ketenaran, martabat, perhatian, kedudukan, apresiasi atau nama baik. Orang
yang memiliki cukup harga diri akan lebih percaya diri. Dengan demikian ia akan
lebih berpotensi dan produktif. Sebaliknya harga diri yang kurang akan
menyebabkan rasa rendah diri, rasa tidak berdaya, bahkan rasa putus asa serta
perilaku yang neurotik. Kebebasan atau kemerdekaan pada tingkat kebutuhan ini
adalah kebutuhan akan rasa ketidakterikatan oleh hal-hal yang menghambat perwujudan
diri. Kebutuhan ini tidak bisa ditukar dengan sebungkus nasi goreng atau
sejumlah uang karena kebutuhan akan hal-hal itu telah terpuaskan.
e.
Kebutuhan akan aktualisasi diri
Menurut
Maslow, setiap orang harus berkembang sepenuh kemampuannya. Kebutuhan manusia
untuk tumbuh berkembang, dan menggunakan kemampuannya disebut oleh Maslow
sebagai aktualisasi diri. Maslow juga menyebut aktualisasi diri sebagai hasrat
untuk makin menjadi diri sepenuh kemampuan sendiri, menjadi apa menurut
kemampuan yang dimiliki. Kebutuhan akan aktualisasi diri ini biasanya muncul
setelah kebutuhan akan cinta dan akan penghargaan terpuaskan secara memadai. Kebutuhan
akan aktualisasi diri ini merupakan aspek terpenting dalam teori motivasi
Maslow. Dewasa ini bahkan sejumlah pemikir menjadikan kebutuhan ini sebagai
titik tolak prioritas untuk membina manusia berkepribadian unggul. Belakangan
ini muncul gagasan tentang perlunya jembatan antara kemampuan majanerial secara
ekonomis dengan kedalaman spiritual. Manajer yang diharapkan adalah pemimpin
yang handal tanpa melupakan sisi kerohanian. Dalam konteks ini, piramida
kebutuhan Maslow yang berangkat dari titik tolak kebutuhan fisiologis hingga
aktualisasi diri diputarbalikkan. Dengan demikian perilaku organisme yang
diharapkan bukanlah perilaku yang rakus dan terus-menerus mengejar pemuasan
kebutuhan, melainkan perilaku yang lebih suka memahami daripada dipahami,
memberi daripada menerima.
Konsep
yang mendasar bagi teori maslow adalah manusia di motivasikan oleh sejumlah
kebutuhan dasar yang bersifat sama untuk seluruh spesies, tidak berubah dan
berasal dari sumber genetis atau naluriah. Kebutuhan-kebutuhan tersebut tidak
semata-mata bersifat fisiologis tetapi juga psikologis. Kebutuhan-kebutuhan itu
merupakan inti dari kodrat manusia, hanya saja manusia lemah dan mudah
diselewengkan dan dikuasai oleh proses belajar, kebiasaan atau tradisi yang
keliru. Kebutuhan-kebutuhan itu adalah aspek instrinsik kodrat manusia yang
tidak akan mati karena kebudayaan. Suatu kebutuhan dapat dikatakan sebagai
kebutuhan dasar jika memenuhi syarat sebagai berikut :
1. ketidak-hadirannya
menimbulkan penyakit
2. kehadirannya
mencegah timbulnya penyakit
3. pemulihannya
menyembuhkan penyakit
4. dalam
situasi tertentu yang sangat komplek dan dimana orang bebas memilih, orang yang
sedang berkekurangan ternyata mengutamakan kebutuhan itu dibandingkan
jenis-jenis kepuasan lainnya.
5. Kebutuhan
itu tidak aktif, lemah atau secara fungsional tidak terdapat pada orang yang
sehat.
Suatu
catatan yang diberikan oleh Maslow bahwa meskipun kebutuhan manusia
bertingkat-tingkat, namun jangan terlalu kaku menanggapinya, mungkin saja orang
yang belum terpenuhi kebutuhan makanannya juga menginginkan rasa aman, atau
orang yang belum sempurna rasa amannya juga menginginkan kasih sayang atau
orang pada tingkat rendah mungkin akan terpuaskan hanya dengan makanan saja dan
seterusnya.
3).
Kepribadian sehat menurut Maslow
Maslow
berpendapat bahwa seseorang akan memiliki kepribadian yang sehat, apabila dia
telah mampu untuk mengaktualisasikan dirinya secara penuh (self actualizing
person). Dia mengemukakan teori motivasi bagi self actualizinga-needs person,
dengan nama metamotivation, meta-needs B-motivation, atau being values
(kebutuhan untuk berkembang). Sementara motivasi bagi orang yang tidak mampu
mengaktualisasikan dirinya dinamai D-motivation atau deficiency.Di bawah ini
ciri-ciri darimetaneeds dan metapologi
Metanees :Sikap percaya,Bijak dan
baik,Indah (estetis),Kesatuan (menyeluruh),Energik dan
optimis,Pasti,Lengkap,Adil dan altruis,Berani,Sederhana (simple)
Metapologis
:tidak percaya, sinis dan skeptic,benci
dan memuakkan,vulgar dan mati rasa,disintegrasi,kehilangan semangat hidup,pasif
dan pesimis,kacau dan tidak dapat diprediksi,tidak lengkap dan tidak
tuntas,suka marah-marah, tidak adil dan egois,rasa tidak aman dan memerlukan
bantuan,sangat komplek dan membingungkan
Mengenai
self-actualizing person,atau orang yang sehat mentalnya, Maslow
mengemukakanciri-cirinya sebagaiberikut.
1) Mempersepsi
kehidupan atau dunianya sebagaimana apa adanya, dan merasa nyaman dalam menjalaninya
2) Menerima
dirinya sendiri, orang laindan lingkungannya.
3) Bersikap
spontan, sederhana, alami, bersikap jujr, tidak dibuat-buat dan terbuka.
4) Mempunyai
komitmen atau dedikasi untuk memecahkan masalah di luar dirinya (yang dialami
orang lain).
5) Bersikap
mandiri atau independen.
6) Memiliki
apresiasi yang segar terhadap lingkungan di sekitarnya
7) Mencapai
puncak pengalaman, yaitu suatu keadaan dimana seseorang mengalami kegembiraan
yang luar biasa. Pengalaman ini cenderung lebih bersifat mistik atau keagamaan
8) Memiliki
minat social, simpati, empati dan altruis
9) Sangat
senang menjalin hubungan interpersonal (persahabatan atau persaudaraan) dengan
orang lain
10) Bersikap
demokratis (toleran, tidak rasialis, dan terbuka)
11) Kreatif
(fleksibel, spontan, terbuka dan tidak takut salah).
Pandangan maslow tentang hakikat manusia yaitu manusia bersifat optimistik, bebas berkehendak, sadar dalam memilih, unik, dapat mengatasi pengalaman masa kecil, dan baik. Menurut dia kepribadian itu dipengaruhi oleh hereditas dan lingkungan. Dalam kaitannya dengan peran lingkungan, khususnya di sekolah dalam mengembangkan self-actualization, Maslow mengemukakan beberapa upaya yang sebaiknya membantu siswa menemukan identitasnya (jati dirinya) sendiri. Diantaranya:
1) Membantu
siswa untuk mengeksplorasi pekerjaan
2) Membantu
siswa untuk memehami keterbatasan (nasib) dirinya
3) Membantu
siswa untuk memperoleh pemahaman tentang nilai nilai
4) Membantu
siswa agar memahami bahwa hidup ini berharga
5) Mendorng
siswa agar mencapai pengalaman puncak dalam kehidupannya
6) Memfasilitasi
siswa agar dapat memuaskan kebutuhan dasarnya (rasa aman, rasa berharga, dan
rasa diakui).
Allport
Allport
percaya bahwa orang-orang yang matang dan sehat tidak dikuasai oleh
kekuatan-kekuatan tak sadar (kekuatan yang tidak dapat dilihat dan
dipengaruhi). Orang-orang yang sehat tidak didorong oleh konflik-konflik tidak
sadar . individu yang sehat berfungsi pada tingkat rasional dan sadar,
menyadari sepenuhnya kekuatan yang membimbing dia dan dapat mengontrol kekuatan
itu juga.
Kepribadian
yang matang tidak dikontrol oleh trauma ataupun konflik pada masa kanak-kanak.
Pusat dari kepribadian kita adalah intensi-intensi kita yang sadar dan sengaja,
misalnya harapan, aspirasi dan impian. Manusia didorong untuk mereduksikan
tegangan-tegangan, menjaga supaya tegangan-tegangan berada pada tingkat yang
paling rendah dan menjaga satu keadaan keseimbangan homeostatis internal atau
“homeostatis”.
Manusia
yang sehat memiliki kebutuhan akan sensasi-sensasi dan tantangan tantangan yang
bervariasi. Orang yang sehat didorong ke depan oleh suatu visi masa depan,
dan visi itu menyatukan kepribadiannya dan membawa orang itu ke tingkat stress
yang lebih tinggi.
Menurut
Allport, kebahagiaan bukanlah suatu tujuan dalam diri, tetapi hasil sampingan
dari integrasi kepribadian dalam mengejar aspirasi dan
tujuan. Tujuan-tujuan yang dicita-ditakan oleh orang yang sehat pada
hakikatnya tidak dapat dicapai. Orang-orang yang matang dan sehat tidak puas
apabila dalam melakukan sesuatu hanya dalam taraf sedang atau memadai, mereka
baru merasa puas apabila melakukan sesuatu dengan kemampuan maksimal mereka.
Fromm
- Kepribadian
yg sehat menurut fromm
kepribadian
sehat menurut Eric from adalah penyesuaian diri seseorang dalam masyarakat
merupakan kompromi antara kebutuhan-kebutuahn batin dan tuntutan dari luar dan
seseorang menerapkan kerakter sosial untuk memenuhi harapan masyarakat
kepribadian sehat juga adanya keinginan untuk mencintai dan di cintai
- Ciri –
ciri kepribadian sehat
–
Cinta yang produktif
cinta
yang produktif menyangkut empat sifat yang menantang perhatian, tanggung jawab,
respek dan pengetahuan. Mencintai orang-orang lain berarti memperhatikan (dalam
pengertian memelihara mereka), sungguh-sungguh memperhatikan kesejahteraan
mereka, dan membantu pertumbuhan dan perkembangan mereka.
–
Pikiran yang produktif
Pikiran
yang produktif meliputi kecerdasan, pertimbangan, dan objektivitas. Pemikir
produktif didorong oleh perhatian yang kuat terhadap objek pikiran. Pemikir
yang produktif dipengaruhi olehnya dan memperhatikannya. Fromm percaya bahwa
semua penemuan dan wawasan yang hebat melibatkan pikiran objektif, dimana
pemikir-pemikir didorong oleh ketelitian, dan perhatian untuk menilai secara
objektif seluruh masalah.
–
Kebahagiaan
Kebahagiaan
merupakan prestasi (kita) yang paling hebat.
–
Suara hati
Fromm
membedakan dua tipe suara hati otoriter dan suara hati humanistis.
- Perkembangan
kepribadian ” self “
Self
disebut pula self concept, merupakan persepsi dan nilai – nilai individu
tentang dirinya atau hal – hal lain yang berhubungan dengan dirinya.
- Peranan
positive regard dalam pembentukan kepribadian individu.
Cara-cara
khusus bagaimana diri itu berkembang dan apakah dia akan menjadi sehat atau
tidak tergantung pada cinta yang diterima anak itu dalam masa kecil. Pada waktu
diri itu berkembang, anak itu juga belajar membutuhkan cinta.
- Ciri
ciri orang yang berfungsi sepenuhnya.
–
Keterbukaan pada pengalaman
Orang
yang berfungsi sepenuhnya adalah orang yang menerima semua
pengalamandengan fleksibel sehingga selalu timbul persepsi baru. Dengan
demikian ia akanmengalami banyak emosi (emosional) baik yang positip maupun
negatif.
–
Kehidupan Eksistensial
Kualitas
dari kehidupan eksistensial dimana orang terbuka terhadap pengalamannyasehingga
ia selalu menemukan sesuatu yang baru, dan selalu berubah dan
cenderungmenyesuaikan diri sebagai respons atas pengalaman selanjutnya.
–
Kepercayaan terhadap organisme orang sendiri
Pengalaman
akan menjadi hidup ketika seseorang membuka diri terhadap pengalaman itu
sendiri. Dengan begitu ia akan bertingkah laku menurut apa yang dirasanya benar
(timbul seketika dan intuitif) sehingga ia dapat mempertimbangkan setiap segi
dari suatu situasi dengan sangat baik.
–
Perasaan Bebas
Orang
yang sehat secara psikologis dapat membuat suatu pilihan tanpa adanya paksaan –
paksaan atau rintangan -rintangan antara alternatif pikiran dan tindakan. Orang
yang bebas memiliki suatu perasaan berkuasa secara pribadi mengenai kehidupan
dan percaya bahwa masa depan tergantung pada dirinya sendiri, tidak pada
peristiwa di masa lampau sehingga ia dapat meilhat sangat banyak pilihan dalam
kehidupannya dan merasa mampu melakukan apa saja yang ingin dilakukannya
–
Kreativitas
Keterbukaan
diri terhadap pengalaman dan kepercayaan kepada organisme mereka sendiri akan
mendorong seseorang untuk memiliki kreativitas dengan ciri – ciri bertingkah
laku spontan, tidak defensif, berubah, bertumbuh, dan berkembang sebagai
respons atas stimulus-stimulus kehidupan yang beraneka ragam di sekitarnya.
Sumber:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar