Nama : Septian Ari Atmojo
Kelas : 2PA14
NPM : 18513379
Penyesuaian Diri dan Pertumbuhan
A. Penyesuaian
Diri dan Pertumbuhan
Penyesuaian
diri merupakan suatu proses dinamik yang hampir selalu membutuhkan perubahan dan adaptasi, dan
dengan demikian semakin tetap dan tidak merubah respon - respon itu, maka
semakin sulit juga menangani tuntutan-tuntutan yang berubah. Kenyataan ini
menjelaskan pengaruh-pengaruh yang menghancurkan kepribadian seseorang. Orang
yang mengalami depresi karena sering kali merasa sulit menyesuaikan diri dengan
pola tingkah laku yang di perlukan.
Penyesuaian
diri dalam bahasa aslinya dikenal dengan istilahadjustment atau personal
adjustment. Schneiders berpendapat bahwa penyesuaian diri dapat ditinjau
dari tiga sudut pandang, yaitu: penyesuaian diri sebagai adaptasi
(adaptation), penyesuaian diri sebagai bentuk konformitas (conformity),
dan penyesuaian diri sebagai usaha penguasaan (mastery). Pada
mulanya penyesuaian diri diartikan sama dengan adaptasi
(adaptation), padahal adaptasi ini pada umumnya lebih mengarah pada penyesuaian
diri dalam arti fisik, fisiologis, atau biologis. Penyesuaian diri yang
dilakukan oleh seseorang akan berdampak juga pada pertumbuhan personalnya. Jika
seseorang dapat menyesuaikan diri dengan baik di lingkungan sekitarnya apalagi
di lingkungan baru, maka pertumbuhan personalnya juga akan mengalami
peningkatan. Sekarang, apa itu pertumbuhan personal? Pertumbuhan adalah proses yang mencakup pertambahan dalam
jumlah dan ukuran, keluasan dan kedalaman. Prof. Gessel mengatakan, bahwa
pertumbuhan pribadi manusia adalah proses yang terus-menerus. Semua pertumbuhan
terjadi berdasarkan pertumbuhan yang terjadi sebelumnya.
Apakah
perbedaan antara adaptasi dan penyesuaian diri?
Adaptasi itu
artinya adalah individu melakukan penyesuaian diri dengan lingkungan, contohnya
adalah apabila seorang individu merasa udara disekitar nya dingin maka individu
itu segera memakai pakaian yang tebal dan meminum atau memakan makanan yang
hangat-hangat.
Lalu
apabila Penyesuaian itu sebagai mengubah lingkungan agar lebih sesuai
dengan diri individu., contohnya apabila individu merasa kedinginan secara
otomatis individu itu menyalakan api atau penghangat ruangan untuk
mengahngatkan badannya.
Namun
Penyesuaian diri disini adalah meliputi penyesuaian diri baik dalam adaptation
dan adjusment. artinya individu mampu menyesuaikan diri dengan baik, secara
normal dan ideal nya mampu menggunakan kedua mekanisme penyesuaian diri
tersebut secara fleksibel tergantung pada suasana dan situasinya. Apabila
individu itu hanya dapat menggunakan salah satu dari kedua mekanisme tersebut
berarti individu itu di anggap kaku dan dominan.
Ada
beberapa ciri penyesuaian diri yang efektif, seperti :
1. Memiliki
Persepsi yang Akurat terhadap Realita
2. Memiliki
Kemampuan untuk Beradaptasi dengan Tekanan atau Stres dan juga Kecemasan
3. Mempunyai
Gambaran Diri yang Positif tentang dirinya
4. Memiliki
Kemampuan untuk Mengekspresikan Perasaannya
5. Mempunyai
kemapuan Relasi Interpersonal yang baik
Individu
yang memiliki serta memenuhi ciri-ciri tersebut dapat digolongkan sebagai
individu yang memiliki kesehatan mental yang positif.
Aspek-aspek
Penyesuaian Diri
Pada
dasarnya penyesuaian diri memiliki dua aspek yaitu: penyesuaian pribadi dan penyesuaian
sosial. Untuk lebih jelasnya kedua aspek tersebut akan diuraikan sebagai
berikut :
1. Penyesuaian
Pribadi
Penyesuaian
pribadi adalah kemampuan individu untuk menerima dirinya
sendirisehingga
tercapai hubungan yang harmonis antara dirinya dengan lingkungan sekitarnya. Ia
menyadari sepenuhnya siapa dirinya sebenarnya, apa kelebihan dan kekurangannya
dan mampu bertindak obyektif sesuai dengan kondisi dirinya tersebut.
Keberhasilan penyesuaian pribadi ditandai dengan tidak adanya rasa benci, lari
dari kenyataan atau tanggungjawab, dongkol. kecewa, atau tidak percaya
pada kondisi dirinya. Kehidupan kejiwaannya ditandai dengan tidak adanya
kegoncangan atau kecemasan yang menyertai rasa bersalah, rasa cemas, rasa tidak
puas, rasa kurang dan keluhan terhadap nasib yang dialaminya. Sebaliknya
kegagalan penyesuaian pribadi ditandai dengan keguncangan emosi, kecemasan,
ketidakpuasan dan keluhan terhadap nasib yang dialaminya, sebagai akibat adanya
gap antara individu dengan tuntutan yang diharapkan oleh lingkungan. Gap inilah
yang menjadi sumber terjadinya konflik yang kemudian terwujud dalam rasa takut
dan kecemasan, sehingga untuk meredakannya individu harus melakukan penyesuaian
diri.
2. Penyesuaian
Sosial
Setiap
iindividu hidup di dalam masyarakat. Di dalam masyarakat tersebut terdapat
proses saling mempengaruhi satu sama lain silih berganti. Dari proses
tersebut timbul suatu pola kebudayaan dan tingkah laku sesuai dengan sejumlah
aturan, hukum, adat dan nilai-nilai yang mereka patuhi, demi untuk mencapai
penyelesaian bagi persoalan-persoalan hidup sehari-hari. Dalam bidang
ilmu psikologi sosial, proses ini dikenal dengan proses penyesuaian sosial.
Penyesuaian sosial terjadi dalam lingkup hubungan sosial tempat individu hidup
dan berinteraksi dengan orang lain. Hubungan-hubungan tersebut mencakup
hubungan dengan masyarakat di sekitar tempat tinggalnya, keluarga, sekolah,
teman atau masyarakat luas secara umum. Dalam hal ini individu dan masyarakat
sebenarnya sama-sama memberikan dampak bagi komunitas. Individu menyerap
berbagai informasi, budaya dan adat istiadat yang ada, sementara
komunitas (masyarakat) diperkaya oleh eksistensi atau karya yang diberikan oleh
sang individu. Apa yang diserap atau dipelajari individu dalam poroses
interaksi dengan masyarakat masih belum cukup untuk menyempurnakan penyesuaian
sosial yang memungkinkan individu untuk mencapai penyesuaian pribadi dan sosial
dengan cukup baik. Proses berikutnya yang harus dilakukan individu dalam
penyesuaian sosial adalah kemauan untuk mematuhi norma-norma dan peraturan
sosial kemasyarakatan. Setiap masyarakat biasanya memiliki aturan yang tersusun
dengan sejumlah ketentuan dan norma atau nilai-nilai tertentu yang mengatur
hubungan individu dengan kelompok. Dalam proses penyesuaian sosial individu
mulai berkenalan dengan kaidah-kaidah dan peraturan-peraturan tersebut lalu
mematuhinya sehingga menjadi bagian dari pembentukan jiwa sosial pada dirinya
dan menjadi pola tingkah laku kelompok. Kedua hal tersebut merupakan proses
pertumbuhan kemampuan individu dalam rangka penyesuaian sosial untuk menahan
dan mengendalikan diri. Pertumbuhan kemampuan ketika mengalami proses
penyesuaian sosial, berfungsi seperti pengawas yang mengatur kehidupan sosial
dan kejiwaan. Boleh jadi hal inilah yang dikatakan Freud sebagai hati
nurani (super ego), yang berusaha mengendalikan kehidupan individu
dari segi penerimaan dan kerelaannya terhadap beberapa pola perilaku yang
disukai dan diterima oleh masyarakat, serta menolak dan menjauhi hal-hal yang
tidak diterima oleh masyarakat.
Pembentukan Penyesuaian Diri
Banyak
faktor yang mempegaruhi penyesuaian diri, ada dari faktor lingkungan keluarga
dan lingkungan teman sebaya.
a).
Lingkungan Keluarga
Lingkungan
keluarga merupakan lahan untuk mengembangkan berbagai kemampuan, yang
dipelajari dalam berbagai hal seperti melalu bermain, sandiwara, interaksi
dengan anggota keluarga, dan pengalaman-pengalaman didalam keluarga. Oleh sebab
itu, orangtua sebaiknya jangan menghadapkan individu pada hal-hal yang tidak
dimengerti. Keluarga juga merupakan wadah pembentukan karakter individu,
penyesuaian diri juga termasuk di dalamnya.
b)
Lingkungan Teman Sebaya
Sama
seperti lingkungan keluarga, lingkungan teman sebaya juga merupakan lingkungan
yang sangat menentukan individu dalam melakukan dan mengembangkan penyesuaian
diri. Bila seorang anak dapat dengan mudah menyesuaikan dirinya dengan
lingkungan teman bermainnya, itu merupakan salah satu alasan bahwa
sebenarnya kesehatan mental individu tersebut baik dan sehat.
B. Pertumbuhan
Personal
Pertumbuhan
adalah perubahan secara fisiologis sebagai hasil dari proses-proses pematangan
fungsi-fungsi fisik yang berlangsung secara normal yang sehat pada waktu yang
normal. Proff Gessel mengatakan bahwa pertumbuhan pribadi manusia berlangsung secara
terus-menerus.
Variasi dalam Pertumbuhan
Dalam
variasi pertumbuhan memang sangat beragam. Tidak semua individu berhasil dalam
melakukan penyesuaian diri berdasarkan tingkatan usia, pertumbuhan fisik,
maupun sosial nya. Mengapa? karena terkadang terdapat rintangan-rintangan yang
menyebabkan ketidakberhasilan individu dalam melakukan penyesuaian, baik
rintangan itu dari dalam diri atau dari luar diri.
Kondisi-Kondisi
untuk Bertumbuh
Kondisi
jasmani seperti pembawa atau konstitusi fisik dan tempramen sebagai
disposisi yang diwariskan, aspek perkembangannya secara intrinsik berkaitan
erat dengan susunan atau konstitusi tubuh, kondisi jasmani dan kondisi
pertumbuhan fisik memang sangat mempengaruhi bagaimana individu dapat
menyesuaikan diri nya.
Carl
Roger (1961) menyebutkan 3 aspek yang memfasilitasi pertumbuhan personal dalam
suatu hubungan :
1. Keikhlasan
kemampuan untuk menyadari perasaan sendiri, atau menyadari kenyataan.
2. Menghormati
keterpisahan dari orang lain tanpa kecuali, dan
3. Keinginan
yang terus menerus untuk memahami atau berempati terhadap orang lain.
Faktor
yang mempengaruhi pertumbuhan personal :
1. Faktor
biologis
Karakteristik
anggota tubuh yang berbeda setiap orang, kepribadian, atau warisan biologis
yang sangat kental.
2. Faktor
geografis
Faktor
lingkungan yang dapat mempengaruhi kepribadian seseorangdan nantinya akan
menentukan baik atau tidaknya pertumbuhan personal seseorang.
3. Faktor
budaya
Tidak
di pungkiri kebudayaan juga berpengaruh penting dalam kepribadian seseorang,
tetapi bukan berarti setiap orang dengan kebudayaan yang sama memiliki
kepribadian yang sama juga.
Selain
itu, ada satu hal yang tidak kalah penting berkaitan dengan penyesuaian diri
dan pertumbuhan personal adalah komunikasi. Dengan kemampuan komunikasi yang
baik maka penyesuaian diri dan pertumbuhan personal seseorang juga akan
berjalan baik.
Stress
Arti penting stress
Stress
juga dibutuhkan dalam kehidupan ini, jika seseorang tidak pernah mengalami stress
hidupnya akan hampa, tidak ada yang namanya tantangan. Stress tidak berarti
negatif (distress), stresspun ada yang bersifat positif (uestress) untuk
menyeimbangkan proses kehidupan kita.
· Efek-Efek
stress menurut hans selye
Menurut
Hans Selye, ahli endokrinologi terkenal di awal 1930 tidak semua jenis stres
bersifat merugikan. Berikut adalah beberapa efek dari stress:
1.
Local Adaptation Stres.
Local
Adaptation Stress adalah ketika tubuh menghasilkan banyak respon setempat
terhadap stres. Respon setempat ini contohnya seperti pembekuan darah,
penyembuhan luka, akomodasi cahaya, dan masih banyak lagi. Responnya
berlangsung dalam jangka yang sangat pendek. Karakteristik dari LAS adalah
respon yang terjadi hanya setempat dan tidak melibatkan semua system, respon
bersifat adaptif sehingga diperlukan stresor untuk menstimulasinya, respon
bersifat jangka pendek dan tidak terus menerus, dan respon bersifat
restorative.
2.
General Adaptation Syndrome
General
Adaptation Syndrome adalah istilah penting dari Hans Selye yang ditemukan saat
membahas tentang stress. Menurutnya ketika organisme berhadapan dengan
stressor, dia akan mendorong dirinya sendiri untuk melakukan tindakan. Usaha
ini diatur oleh kelenjar adrenal yang menaikkan aktivitas sistem syaraf
simpatetik. Reaksi fisiologis tubuh terhadap perubahan-perubahan akibat stress
itulah yang disebut sebagai General Adaption Syndrome. GAS terdiri dalam tiga
fase :
a. Alarm
reaction (reaksi peringatan) pada fase ini tubuh dapat mengatasi stressor
dengan baik. Apabila ada rasa takut atau cemas atau khawatir tubuh akan
mengeluarkan adrenalin, yaitu hormon yang mempercepat katabolisme untuk
menghasilkan energi untuk persiapan menghadapi bahaya mengacam ditandai dengan
denyut jantung bertambah dan otot berkontraksi.
b. The
stage of resistance (reaksi pertahanan). Reaksi terhadap stressor sudah
mencapai atau melebihi tahap kemampuan tubuh. Pada keadaan ini, mulai timbul
gejala-gejala psikis dan somatis. Respon ini disebut juga coping mechanism.
Coping berarti kegiatan menghadapi masalah, misalnya kecewa diatasi dengan
humor.
c. Stage
of exhaustion (reaksi kelelahan). Pada fase ini gejala-gejala psikosomatik
tampak dengan jelas. Gejala psikosomatis antara lain gangguan penceranaan, mual,
diare, gatal-gatal, impotensi, exim, dan berbagai bentuk gangguan lainnya.
Tipe-tipe Stres Psikologis
1.
Tekanan (Pressure)
Tekanan
bersumber dari:
· dalam
diri (misal: ambisi)
· luar
diri (misal: kompetisi di lingkungan)
· gabungan
keduanya.
Apabila
terlalu keras menuntut diri sendiri, dapat memunculkan perilaku self-defeating,
dimana diri kita kalah dengan tuntutan kita sendiri yang berlebihan (contoh:
pada orang perfeksionis).
2.
Frustrasi (Frustration)
Muncul karena adanya hambatan terhadap motif atau perilaku
kita dalam mencapai tujuan. Dapat muncul akibat tidak adanya objek tujuan yang
sesuai, misal: saat lapar, tidak ada makanan; atau adanya penundaan, misal:
menunggu lampu lalu-lintas hijau; atau adanya rintangan sosial, misal: ingin
jadi juara menyanyi tapi tidak pernah punya kesempatan.
Sumber
frustrasi dari dalam diri individu: (a) tidak punya kemampuan, (b) rendahnya
komitmen, (c) rendahnya kepercayaan diri, (d) perasaan bersalah, (e)
karakteristik individu: jenis kelamin, warna kulit.
Tingkat
frustrasi tertentu merupakan bagian dari proses pertumbuhan (contoh: masa
remaja masa matang fisik dan seksual sehingga ingin independen, padahal secara
ekonomi masih dependen pada orangtua). Frustrasi dapat menimbulkan kemarahan
dan perilaku yang agresif, semakin rendah toleransi kita terhadap frustrasi
maka semakin mudah kita untuk cenderung menjadi agresif.
3.
Konflik
Muncul
ketika individu berada dalam kondisi di bawah tekanan untuk merespon dua atau lebih
dorongan yang saling bertentangan secara simultan atau bersamaan. Konflik
dibedakan berdasar nilai dari masing-masing pilihan; jika pilihannya memiliki
tujuan yang positif bagi individu maka dinamakan sebagaiapproach
tendency. Sedangkan jika pilihannya memiliki tujuan negatifdinamakan avoidance
tendency.
Macam-macam
konflik:
a. approach-
approach conflict, adalah suatu konflik antara dua tujuan
yang positif, dimana kedua tujuan itu mempunyai daya tarik yang sama.
b. avoidance-avoidance
conflict, adalah konflik yang melibatkan dua pilihan yang
sama-sama memiliki konsekuensi negatif.
c. approach-avoidance
conflict, adalah konflik yang paling sulit dipecahkan. Satu
objek memiliki konsekuensi positif maupun negatif.
d. double
approach-avoidance conflict, adalah konflik yang melibatkan
dua alternatif yang sama-sama punya konsekuensi positif dan negatif.
4.
Kecemasan
Merupakan
perasaan samar-samar, rasa yang tidak mudah untuk merasakan bahaya di masa yang
akan datang. Gejala cemas: jantung berdebar, ketegangan otot, keringat dingin.
Secara psikologis dianggap wajar jika dalam intensitas yang normal, karena
kecemasan merupakan tanda alarm yang memperingatkan kita bahwa bahaya sudah
dekat dan membangkitkan kita untuk meresponnya secara tepat.
Kecemasan
dibagi 2 berdasarkan ukurannya:
- Kecemasan taraf ringan-sedang: menstimulasi
individu menjadi lebih waspada dan resposif pada situasi yang membutuhkan
perhatian lebih (fascilitating anxiety).
- Kecemasan yang berlebihan : memperburuk
performa kita (debilitating anxiety).
Symptom-Reducing
Respons Terhadap Stres
Ada
dua macam penyesuaian untuk mengurangi gejala stres:
1) Yang bersifat tak disadari: adalah defense
mechanism (mekanisme pertahanan diri atau ego).
2) Yang bersifat disadari: membicarakannya dengan
orang lain; melakukan pekerjaan lain yang mengurangi simtom stres; misal
tertawa.
MEKANISME
PERTAHANAN DIRI
Merupakan reaksi awal dalam kehidupan
manusia untuk menjaga diri mereka dari kelebihan dosis intensif dari adanya
stres psikologis. Mekanisme ini dipelopori oleh Sigmund Freud, yang digunakan
untuk mengatasi emosi negatif. Sifatnya kebanyakan tak disadari, otomatis
muncul saat individu menghadapi ancaman baik dengan kesadaran minimum atau
tidak sama sekali. Strategi ini tidak mengubah situasi stress, melainkan
semata-mata bertujuan untuk mengubah cara menghayati atau memikirkan situasi.
Berikut
akan diuraikan jenis-jenis Defense Mechanism, yaitu:
1)
Represi (repression)
Berusaha
menekan pengalaman-pengalaman yang tidak menyenangkan ke bawah sadar (motivated
forgetting)–fungsi normal kembali. Akibatnya membebaskan dari ketidaknyamanan
akibat selalu waspada pada ancaman, tetapi mempersempit kesadaran kita, membuat
perilaku jadi kaku.
2)
Supresi (supression)
Upaya
sadar individu untuk mengendalikan keinginan-keinginan yang memunculkan
kecemasan, dan mengekspresikannya pada waktu tertentu saja. Berusaha menolak
atau menghambat realita internal.
3)
Pengingkaran (Denial)
Menolak
melihat atau mendengar aspek realita yang tidak menyenangkan atau mengancam.
Menolak pengakuan eksternal atau realita sosial.
4)
Rasionalisasi
Usaha
untuk memberikan alasan pada perilaku yang tidak diterima dalam cara yang
diterima sosial dan rasional. Nilai self-deception sangat besar, mirip dengan
berbohong atau mengingkari orang lain.
5)
Regresi
Mengurangi
ketegangan dalam dirinya dengan bertingkah laku mencari perhatian (seperti anak
kecil; merajuk, marah) – agar diperhatikan. Mundur pada fase perkembangan
sebelumnya.
6)
Proyeksi
Upaya
individu untuk melemparkan penyebab frustrasinya pada orang lain. Misal: cinta
orang lain, tapi takut bilang, yang muncul adalah bilang dicintai orang
tersebut.
7)
Reaksi-formasi
Mengalihkan
motif yang dimiliki ke motif lain yang berlawanan, sebagai upaya mengurangi
kecemasan yang muncul akibat motif pertama yang tadi tidak diterima superego
atau moral. Contoh: benci orangtua, tampil sebagai anak yang sayang pada
orangtua berlebihan.
8)
Sublimasi (displacement)
Tidak
tercapainya suatu motif tertentu, yang kemudian dialihkan pada motif yang sejenis
tapi beda kegiatan. Misal: ingin jadi dokter – suka terlibat menolong orang.
9)
Acting Out
Membebaskan
tegangan dari impuls yang tidak dapat diterima dgn mengekspresikannya secara
simbolik. Misal: ingin merasa independen dari orangtua maka remaja jadi tampil
modis, bolos sekolah, penundaan atau mogok, seks bebas, tawuran. Sifatnya tidak
disadari.
10)
Fantasi
Membebaskan
tekanan dengan tindakan imajinasi. Misal: melamun, yakin bahwa jadi tokoh dalam
film, tokoh dalam film kaya seperti harapannya (ada unsur self-deception,
distorsi realita).
SARANA
COPING UNTUK STRES MINOR
Merupakan respon terhadap stres ringan,
yang sangat dipengaruhi oleh proses belajar individu. Berlaku otomatis, tetapi
lebih disadari oleh individu (ada pada level kesadaran). Sarana yang dilakukan
dipengaruhi juga oleh: situasi, kekuatan dan kesegeraan gangguan, serta pola
kebiasaan individu dalam menghadapi stres.
Jenisnya:
a.
kontak fisik (dielus), makan, minum
b.
tertawa, menangis, memaki/ mengutuk
c.
membicarakan dengan orang lain, merenungi masalah seorang diri
d.
melakukan aktivitas yang meredakan ketegangan (misal: olahraga, jalan-jalan,
main games).
Pendekatan Problem Solving Terhadap Stres
Merupakan
jenis penyesuaian terhadap stres yang bersifat disadari, berupaya menghilangkan
sumber stres, tidak tergesa-gesa dan lebih terarah serta ada strategi tertentu,
sehingga lebih efektif.
Jenisnya:
- memodifikasi diri agar lebih toleran terhadap
stres.
- memodifikasi situasi yang menimbulkan stres.
MENINGKATKAN
TOLERANSI TERHADAP STRES
- Toleransi terhadap tekanan
Membiasakan
diri bekerja di bawah stres dengan meningkatkan kemampuan dan keterampilan.
- Toleransi terhadap frustrasi
Berusaha
lebih independen terhadap lingkungan mencoba memahami sumber frustrasi kita
belajar untuk menunda pemuasaan atau kesenangan.
- Toleransi terhadap konflik
Menyadari
adanya konflik mencari segi positif terbanyak dan efek emosionalnya.
- Toleransi terhadap kecemasan
Mencoba
tetap merasakan kecemasan tanpa mengurangi performa kita menggali lebih banyak
pengalaman dan belajar menghadapi situasi yang membuat kita cemas.
PENDEKATAN
YANG BERORIENTASI TUGAS
- Pendekatan Asertif
Merupakan
pendekatan yang menekankan pada usaha-usaha individu untuk mengekspresikan hak
dan keinginan tanpa merebut hak orang lain.
- Pendekatan Menarik Diri
Dapat
dilakukan apabila sumber stress tidak dapat dihilangkan dengan asertif dan
kompromi. Strategi sementara untuk mengatasi stres yang dapat berakibat
memperburuk kesehatan individu tersebut. Misal: cuti kuliah untuk mengumpulkan
biaya kuliah.
- Berkompromi
Biasa
digunakan apabila agen sumber stress memiliki otoritas lebih tinggi dari kita,
atau sama-sama seimbang. Baik-buruknya sangat tergantung pada sejauhmana
kepuasan dapat diperoleh individu, dan sebesar apa usaha yang dilakukan untuk
mengurangi stres.
Sumber: